Dinasti Al-Murabitun, Pejuang dari Ribat (1)

Dinasti Al-Murabitun, Pejuang dari Ribat (1)




Pejuang Al-Murabitun (ilustrasi).

Cordoba, 1086 M. Wilayah kekuasaan Islam di Andalusia itu nyaris direbut oleh Raja Alfonso VI dari Kerajaan Kastilia.

Untunglah pasukan tentara Muslim dari Afrika Utara yang diundang Al-Mu’tamid bin Abbas—Amir Cordoba—segera datang menyelamatkan wilayah itu.

Dalam pertempuran hebat yang terjadi di Zallakah pada 23 Oktober 1086, pasukan tentara Islam memukul mundur pasukan Kastilia.

Pasukan bala bantuan yang dipimpin Yusuf bin Tasyfin itu berasal dari Dinasti Al-Murabitun atau Almoravid—salah satu dinasti Islam besar yang muncul pada pertengahan abad ke-5 H atau awal abad ke-11 M. Wilayah Cordoba, Sevilla, dan Toledo pun berhasil dikuasai dinasti yang berpusat di Maroko itu.

Dinasti Al-Murabitun berawal dari sekelompok pejuang yang jumlahnya tak lebih dari 1.000 orang. Mereka biasa disebut Al-Mulassimun karena mereka selalu menutup wajah untuk melindungi diri dari terik panas matahari di gurun pasir Magribi (Maroko sekarang).

Al-Murabitun berasal dari nama tempat tinggal mereka. Pada awalnya, mereka menempati ribat (semacam madrasah) yang dikelilingi oleh benteng. Di ribat itulah mereka berguru kepada Abdullah bin Yasin, seorang pemimpin ribat.

Kelompok itu berasal dari Lemtuna, sebuah kabilah yang merupakan cabang dari bangsa Berber di wilayah gurun pasir Magribi yang bernama Sanhaja. Asal-usul rumpun bangsa Sanhaja adalah Himyar yang berasal dari Yaman di selatan Semenanjung Arab.

Orang-orang dari Kabilah Sanhaja ini selanjutnya hijrah ke negeri Syam (sekarang Suriah), lalu ke tepi pantai Afrika Utara sebelum akhirnya menetap di Sahara Afrika.


Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nidia Zuraya