Jumat, 15 September 2006

Beranda » LINTASAN SEJARAH ISLAM (5) PENGARUH KEDATANGAN ISLAM BAGI BANGSA ARAB

LINTASAN SEJARAH ISLAM (5) PENGARUH KEDATANGAN ISLAM BAGI BANGSA ARAB

LINTASAN SEJARAH ISLAM (5)
PENGARUH KEDATANGAN ISLAM BAGI BANGSA ARAB

Telah kita ketahui bahwa bangsa Arab yang tinggal di Jazirah Arab merupakan keturunan dari dua rumpun besar, yaitu Qathan dan Adnan. Arab Qathan mendiami wilayah Selatan yang merupakan daerah Arabia Felix. Sebagian dari mereka ada yang beragama Kristen dan ada yang beragama Yahudi. Sedangkan Arab Adnan, yang merupakan keturunan Nabi Ibrahim a.s. dari garis Nabi Ismail a.s. sebagian besar mendiami wilayah bagian utara. Namun dalam perkembangan sejarahnya lambat laun kedua rumpun ini saling membaur.




Sebagai Pengembara


Sejak lama orang Arab hidup sebagai bangsa pengembara yang selalu berpindah tempat. Hanya sebagian kecil hidup menetap di kota-kota yang jaraknya saling berjauhan satu sama lain. Tetapi baik orang Arab yang hidup nomaden maupun yang hidup menetap di kota-kota kecil, keduanya hidup dalam organisasi masyarakat kesukuan yang keras. Sejak runtuhnya kerajaan Himyar, khususnya yang hidup di luar Arabia Felix, tidak mengenal konsep pemerintahan negara kota seperti orang Semit lain yang berada di Mesopotamia dan Saba’.


Kelompok beberapa keluarga membentuk kabilah (clan), dan beberapa kelompok kabilah membentuk suku (tribe) dan dipimpin oleh seorang syekh. Sumber kekuatan komunitas mereka adalah solidaritas kelompok. Antara suku yang satu dengan suku yang lain saling berperang. Sekalipun setiap kabilah mempunyai seorang syekh atau pemimpin, namun kekuasaan mereka itu terbatas. Orang-orang Arab hanya tunduk kepada pemimpin kabilah dalam hal-hal mempunyai kaitan dengan peperangan dan pembagian harta hasil rampasan dalam peperangan.


Karena banyaknya peperangan itulah kebudayaan tidak pernah berkembang. Selama lebih dua ratus tahun hingga datangnya agama Islam, tidak ada perubahan yang berarti dalam kehidupan mereka. Mereka juga tidak juga mengembangkan budaya tulis. Sumber-sumber sejarah mereka direkam dalam syair-syair yang dihafal oleh para perawi syair. Hanya syair-syair tertentu dan terpilih yang mereka tulis pada kain yang kemudian digantungkan di dinding Ka’bah. Sekalipun demikian terdapat hal yang menakjubkan pada bangsa Arab. Mereka memiliki solidaritas kelompok yang tinggi, tinggi semangatnya dalam mencari nafkah, sabar dalam berbagai kesukaran dan cinta akan kebebasan. Kecuali itu mereka mencintai syair dan pandai bertutur dalam bahasa yang indah. Ini tentu saja berpengaruh bagi perkembangan Islam.


Kota Mekkah terletak di Hijaz. Di situ terdapat Ka’bah, yang merupakan tempat ziarah orang-orang Arab. Sebagai kota suci, Ka’bah tidak hanya diziarahi oleh orang-orang Arab penyembah berhala, tetapi juga oleh orang-orang Yahudi yang diam di sekitarnya. Maklum yang mendirikan Ka’bah adalah Nabi Ibrahim bersama putranya Nabi Ismail a.s.


Sampai datangnya agama Islam orang Arab sebagian besar berpegang teguh pada kepercayaan asli nenek moyang mereka. Mereka mempercayai banyak dewa yang diwujudkan dalam bentuk berhala dan patung sebagai sasaran sesembahan. Ka’bah merupakan pusat penempatan berhala-berhala, namun di tempat lain juga banyak terdapat berhala-berhala. Berhala terpenting ialah Hubal, dewa terbesar mereka. Karena pentingnya berhala ditempatkan di Ka’bah. Lata merupakan dewa tertua, terletak di Thaif. Uzza bertempat di Hijaz, kedudukannya berada di bawah Hubal. Di Yatsrib patung dewa terpenting ialah Manat. Patung-patung ini dijadikan tempat menanyakan dan mengetahui nasib baik dan buruk.


Karena letaknya jauh dan sukar dicapai, daerah ini tidak menarik minat bangsa-bangsa lain untuk menaklukkannya. Karena itu selama beberapa ratus tahun Hijaz menikmati kemerdekaan sepenuhnya dan tidak pernah tersentuh oleh pasukan Byzantium atau pun Persia. Tetapi karena di situ terdapat Ka’bah, segeralah Mekkah tumbuh jadi kota penting di Jazirah Arab. Untuk menjaga keselamatan dan keamanan para peziarah, maka dibentuk semacam pemerintahan untuk mengatur segala macam urusan yang berkaitan dengan para peziarah itu.



Mula-mula pucuk pimpinan pemerintahan dipegang oleh dua suku yang berkuasa, yaitu Jurhum sebagai pemegang kekuasaan politik dan Ismail, sebagai pemegang kekuasaan atas Ka’bah. Kekuasaan politik mula-mula berada di tangan suku Khuza’ah dan akhirnya beralih ke tangan suku Quraysh di bawah pimpinan Qushay. Mekkah bertambah maju dan makmur di bawah pemerintahan orang Quraysh, khususnya ketika dipimpin oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad.


Kekuasaan politik orang Quraysh pada waktu itu meliputi bidang-bidang seperti: (1) Hijabah, penjaga kunci-kunci Ka’bah; (2) Siqayah, pengawas mata air zamzam; (3) Diyat, urusan hukum dan jinayah (kriminal); (4) Sifarah, kuasa usaha atau duta; (5) Liwa’, jabatan ketentaraan; (6) Rifadah, pengurus pajak untuk didermakan kepada orang-orang miskin; (7) Nadwah, jabatan ketua dewan; (8)Khaimmah, pengurus balai musyawarah; (9) Khazinah, jabatan administrasi keuangan; (10) Azlam,penjaga panah ramalan untuk mengetahui pendapat dewa-dewa. Anggota tertua dari dewan pemerintahan mempunyai pengaruh paling besar dan disebut rais.



Setelah kerajaan Himyar jatuh, jalur-jalur perdagangan dikuasai oleh kerajaan Persia dan Byzantium. Pusat kegiatan perdagangan bangsa Arab lantas pindah pula ke daerah Hijaz, dengan Mekkah sebagai pusatnya.. Orang Arab lantas ikut maju di bidang perdagangan dan suku Quraysh yang memerintah Mekkah menjadi masyhur dan disegani. Bersamaan dengan majunya Mekkah pada permulaan abad ke-6 M inilah peradaban dan kebudayaan mulai bersemi di Hijaz. Pengaruh dari luar mulai masuk; (1) Karena adanya hubungan dagang dengan bangsa lain, khususnya Rumawi dan Persia; (2) Pengaruh asing juga masuk melalui kerajaan Hirah dan Ghazan; (3) Semakin giatnya misi Yahudi dan Kristen Nestoria. Lahirnya agama Islam lebih jauh menyebabkan perubahan besar-besaran terjadi di Arab.


Karena ramainya perdagangan dengan sekitarnya orang-orang Arab berhubungan dengan bangsa Syria, Persia, Habsyi, Qibhti (Mesir) dan Rumawi. Penganut agama Yahudi juga mendirikan banyak koloni, yang terpenting ialah Yatsrib atau Madinah. Koloni-koloni Yahudi didiami oleh orang Yahudi dan orang Arab yang memeluk agama Yahudi. Orang-orang Kristen Nastoria dan Jacobian (Yaakibah) juga kian banyak ditemui, khususnya di Najran. Mereka kelak menjadi pengubung kebudayaan Yunani dan Arab, khususnya pada zaman awal perkembangan Islam. Sebab di antara kalangan cendekiawan dan sarjana awal yang memeluk agama Islam ialah orang-orang Kristen Nestoria dan Jacobian. Mereka berbondong-bondong masuk Islam pada zaman pemerintahan kekhalifatan Abbasiyah di Baghdad (750-1258 M).


Pengaruh Kedatangan Islam


Datangnya agama Islam di Jazirah Arab menyebabkan terjadinya perubahan besar bagi kehidupan bangsa Arab. Baik secara struktural dan mental, maupun secara kultural dan spiritualitas. Islam bukan saja berhasil meengubah tatanan masyarakat Arab yang bercorak kesukuan menjadi bangsa yang berteraskan semangat persatuan. Mereka dipersatukan saja oleh keyakinan agama, tetapi juga bahasa dan kesusastraan, dan orientasi sosial dan budaya. Lambat laun perubahan tampak pula dalam pandangan dunia (Weltanschauung), sistem nilai dan pandangan hidup (way of life). Dengan itu bangsa Arab naik martabatnya disebabkan perkembangan budaya dan intelektualnya, demikian juga di ranah percaturan politik, ekonomi, dan perdagangan.


Perubahan-perubahan itu dapat diringkaskan di sini, sebagai berikut: (1) Sebagai pemuja berhala yang meyakini banyaknya Tuhan, menjadi pembela gigih ajaran monotheis atau Tauhid. (2) Dari masyarakat yang berpaham kesukuan yang sempit lantas menjadi masyarakat yang mengenal konsep ummah atau umat. Sebagai bagian dari Umat Islam mereka menjadi sangat terhormat dan duduk sama rendah serta beriri sama tnggi engan suku-suku bangsa lain, bangsa dan ras lain yang sama-sama memeluk agama Islam. (3) Sebelum agama Islam datang mereka menyandarkan kehidupan budayanya paa tradisi lisan. Dengan datangnya Islam mereka tampil sebagai kaum yang berpikiran maju dan mampu mengembangkan tradisi baca tulis sampai tingkat seting-tingginya. Kewajiban belajar membaca dan menulis tertera dalam al-Qur’an. Dengan munculnya al-Qur’an pula serta kajian terhadap segala aspek yang terkandung di dalamnya, termasuk aspek kebahasaan dan sastranya, mendorong perkembangan serta kemajuan bahasa Arab dan kesusastraannya. Sampai saat ini hanya bahasa Arab di antara bahasa-bahaa Semit lainnya yang paling berkembang dan maju.



(4) Datangnya slam menyebabkan pula ilmu pengetahuan dan filsafat berkembang. Bidang ilmu yang berkembang tidak terbtas pada ilmu-ilmu agama sperti Tafsir, Hadis, Ilmu Kalam, Fiqih, Syariah, Usuluddin, Tasawuf, dan Nahwu. Tetapi juga ilmu pengetahuan alam, matematika, kedokteran, ilmu kemasyarakatan dan kemanusiaan (humaniora). (5) Bangsa Arab yang dahulunya hidup nomaden, berubah menjadi masyarakat yang hidup menetap dan karenanya berkemampuan mengembangkan civil society dan negara. (6) Islam juga memberi kemungkinan menaklukkn dua adi kuasa besar pada masa awal kemunculannya, yaitu Romawi dan Persia. Wilayah taklukan Islam dahulunya berada di bawah kekuasaan Romawi dan Persia. Ini semua akan kita bahas dalam fasal-fasal selanjutnya.

(BERSAMBUNG)