Rabu, 18 Oktober 2006

Beranda » Asal Usul Petik Laut di Puger (Riwayat Buyut Jirin)

Asal Usul Petik Laut di Puger (Riwayat Buyut Jirin)

13347210381707070074

Segoro Kidul atau Samudera Indonesia menjadi ladang penghidupan bagi masyarakat Puger yang sebagian besar sebagai nelayan. Puger sendiri merupakan pelabuhan laut yang berfungsi sebagai pangkalan dari para nelayan dan pelaut dengan bukti keberadaan Tempat Penampungan Ikan (TPI) terbesar di Jawa Timur.

Puger saat ini sebagai Kecamatan di Kabupaten Jember meliputi 13 (tiga belas) desa, yang di antaranya Desa Puger Wetan dan Desa Puger Kulon. Dalam perjalanan sejarahnya, Kota Puger yang sekarang sebagai kota kecamatan memiliki fakta-fakta dan nilai-nilai historis yang mendorong perkembangan Kabupaten pada umumnya.

Tradisi dan budaya yang berkembang di Puger tidak dapat dilepaskan dari kondisi alam yang didominasi lautan luas Samudera Indonesia. Tradisi dan budaya nelayan menjadi dominan dalam masyarakat Puger. Masyarakat yang tinggal di Puger merupakan masyarakat yang multikultura, diantara terdapat suku Mandar, Jawa, Madura, China serta sebagian kecil keturunan Eropa / Belanda campuran.

Petik Laut atau ada yang menyebut dengan Larung Sesaji, salah satu tradisi tahunan yang ada di Puger, merupakan bentuk pengaruh kondisi alam yang didominasi oleh Lautan. Petik Laut dapat dilihat sebagai interaksi kehidupan manusia dengan alam semesta yang menyediakan berbagai sumber kehidupan baik itu ikan-ikannya maupun sumber daya alam lainnya.


Riwayat kegiatan Petik Laut tidak dapat dilepaskan dari kisah tentang Buyut Jirin yang turun temurun sebagai cerita rakyat yang berkembang dalam masyarakat Puger. Buyu Jirin, begitu masyarakat Puger menyebutnya, secara turun temurun diakui sebagai sesepuh Puger.



Buyut Jirin adalah seorang perempuan yang berasal dari Mataram. Buyut Jirin, berdasarkan keterangan keturunan ketiga Nuraman Jupri lahir 1946 (17/4/2012), pada masa hidup sebagai penasehat atau dukun bagi para penjabat pemerintahan di Puger.

Asal usul Buyut Jirin sampai di Puger dengan melakukan perjalanan kaki dari Mataram ke Puger. Kemudian di Puger Buyut Jirin menikah dengan seorang laki-laki yang tinggal di Puger.

Buyut Jirin mempunyai kegemaran tikarat. Tempat yang sering dikunjungi untuk melakukan tikarat adalah Pulau Nusa Barong yang terdapat makam Mbah Sindu.


Ombak Segoro kidul / Samudera Indonesia terkenal sangat besar-besar. Sehingga tak jarang perahu nelayan terhempas ombak hingga karam. Plawangan / Pancer menjadi tempat yang berbahaya dilewati perahu nelayan, karena di tempat sering terjadi perahu karam akibat diterpa ombak besar.

Buyut Jirin dalam suatu waktu tatkala melakukan tirakan mendapat wisik agar melakukan SEDEKAH PANCER. Tujuan diadakan SEDEKAH PANCER ini memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan warga Puger, terutama bagi nelayan yang melaut untuk menangkap ikan di Segoro Kidul.

Ketokohan Buyut Jirin dan kepercayaan masyarakat Puger bahwa Buyut Jirin merupakan orang linuwih (yang mempunyai kemampuan supranatural lebih dibandingkan lainnya) maka SEDEKAH PANCER. Sedekah Pancer dilakukan dengan melarung sesaji ke laut sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Puger karena karunia dari SANG KHALIK telah diberi sumber daya alam yang kaya.

Sedekah Pancer menjadi acara tahunan setiap menjelan Bulan Suro atau Muharam. Sedekah Pancer ini kemudian menjadi dasar acara PETIK LAUT yang dilakukan pemerintah Desa Puger Wetan dan Puger Kulon yang difasilitasi Kecamatan Puger setiap tahunan dan menjadi tradisi yang dilestarikan oleh masyarakat Puger. (YSH 18042012)

Setiyo Hadi