Catatan Pinggir Sejarah Samawa

13369070611203680409

Tumpukan lembaran-lembaran kertas tua hingga yang masih gress berserakan begitu

saja di tiap-tiap sudut kamar. Huruf pegon, Satera Jontal, hingga yang

berbahasa Belanda dan Inggris semakin menambah bumbu berantakannya

kamar yang baru saja 6 bulan ini menemaniku bersama menyambut pagi. Aku

sendiri tak mempunyai motif tertentu, kenapa masih saja kertas-kertas

itu harus kubuka dan ku baca tiap hari. Entah apa sebenarnya yang

kucari, tapi jelas sekali aku menangkap, motif apa yang kutemukan.

Motif yang sebenarnya membuatku malu menerima realitas yang membuatku

harus mengakui bahwa aku memang dilahirkan di tana Samawa, dan aku tau

Samawa. Motif yang juga sering sekali membuat ku senyum cengengesan

mengakui dan di buat merasa bangga mengakui ke-diri-an ku, walau itu

bukan dalam hal-hal yang kwalitatif. Namun motif yang paling jelas

polanya adalah kusut, kusam, dan buramnya sejarah itu sendiri, tak ubah

seperti kusamnya lembaran-lembaran tua yang ku kumpulkan dengan begitu

sulitnya, karena lembaran yang sesungguhnya menceritrakan tentang

keterbentukan karakter kita tau samawa lewat rekaman-rekaman dialektika

sejarah, pengetahuan dan realitas masyarakat kita selama ini, ternyata

dijadikan azimat yang keramat oleh beberapa orang.



Keterbentukan diri dan ke-diri-an bukanlah suatu hal yang berjalan secara almiah dan

evolutif. Keterlibatan manusia sebagai subjek dari sejarah itu sendiri,

tentunya dengan sendirinya membongkar mitos evolusi sejarah, yang

sering dijadikan alat legitimasi oleh kaum kafir penjajah, dan membuat

kita mau tidak mau harus menerima karakter mental budaya lokal yang

memang pantas mejadi budak, masyarakat kelas rendahan dan loronzovos.

Setidaknya itulah pesan-pesan historiografi yang terpintal dibalik

teks-teks laporan gubernuran Belanda tentang situasi sosiologis dan

antropologis tau samawa. Inilah realitas ke-dua dari sejarah, setelah

realitas sebenarnya. Realitas berbentuk teks-teks yang seakan-akan

otentik sejarah namun penuh dengan social enggenering. Sejarah diracik dengan begitu indahnya hingga memasuki (inner world) relung terdalam dari inti kesadaran masyarakat,

sehingga tiada ruang untuk membantah bahwa memang itulah diri dan ke-diri-an kita sebenarnya,

sebagaimana yang dicerminkan oleh sejarah. Sejarah yang membuat kita

harus mengakui ketertundukan, keterbodohan, dan ketakberdayaan kita

dalam menerima realitas ke-diri-an kita sendiri. Realitas ke-tiga dari

sejarah kita adalah ketika kita yang sedang berada di perempatan kiri

jalan ini, diusik oleh rasa ingin tahu tentang ke-diri-an kita sendiri.

Lalu bergerak dan mencari lewat lembaran lembaran yang sudah kadung

terlebih dahulu mendapat identitas teks sejarah, menulisnya kembali

untuk dibaca anak cucu lewat kurikulum dan lembaran-lembaran buku baru,

hingga….. budaya pembodohan, pengasingan dan pengungsian realitas

sebenarnya dari sejarah, membentuk rantai makanan yang begitu kuat.

Distorsi sejarah semakin menemukan bentuknya.



Mungkin terlalu berspekulasi, bahwa paradigma dan lebih jauh lagi budaya dan prilaku

masyarakat kita hari ini terbentuk oleh dekonstruksi yang dibentuk oleh

teks-teks sejarah sebagaimana tersebut di atas. Kita paham tidak semua

masyarakat mampu mengakses dan berminat menelusuri sejarah. Dan juga

sadar akan teks-teks tentang perjalanan sejarah kita sangat minim,

tidak seperti Jawa. Sehingga dapat dikatakan tidak ada korelasi yang

positif antara bangunan karakter mental masyarakat kita dengan

motif-motif politik yang dibentuk akibat mengakses teks-teks social enggenering sejarah.

Namun ada satu hal yang harus dipahami oleh pemerhati sejarah dan siapapun yang memiliki

sense of belonging atas masyarakat kita tau samawa. Bahwa operasi pengasingan kesadaran

melalui rekayasa social distorsi sejarah, dengan pembangunan paradigma

pengetahuan adalah satu hal, namun di sisi lain operasi pengungsian

kesadaran sejarah masyarakat kita terjadi tidak hanya melalui teks-teks

kusam tersebut, melainkan melaui apapun yang kita lihat di sekitar

kita. Masyarakat kita sesungguhnya sedang di kepung oleh budaya ketidak

sadaran. Bahkan hingga pada realitas diri sendiri pun ketika di

pandang, hanya akan memberi sugesti negative yang berlanjut mengendap

pada rekaman alam bawah sadar, yang memuluskan proses distorsi

kesadaran sebagaimana yang diciptakan melalui teks-teks sejarah.



Apa yang terjadi….

Hari ini kita dipaksa untuk menerima ke-diri-an kita yang sebagaimana

para pembaca lihat sendiri dalam susunan pola tatanan social masyarakat

kita. Mau tidak mau kita hanya memiliki satu cermin untuk mencari

cerminan diri, kemana lagi kalau bukan masyarakat kita sendiri. Padahal

bayangan yang ditimbulkan oleh cermin itu tak sepenuhnya menunjukkan

tentang ke-diri-an kita. Kita tak berani mengatakan jujur pada cermin

tersebut bahwa bayangan yang ada di dalam cermin itu bukan kita. Tapi

kita tetap saja bergaya dan bersolek seakan-akan itu memang benar kita.

Hidup dalam kebohongan…….

(Suryatmajan-Jogjakarta, 4 Agustus 2006 by Poetra Adi Soerjo)