Senin, 16 Oktober 2006

Beranda » Haji Hasan Mustapa, Khazanah Lokal yang Terpendam

Haji Hasan Mustapa, Khazanah Lokal yang Terpendam

JIKA Anda akan ke daerah Bandung Timur atau hendak ke terminal bis Cicaheum,Bandung, cobalah lewat jalan Pahlawan. Berhentilah diperempatan dan tengoklah ke arah timur, pasti Anda menemukan Jalan PHH Mustapa (Penghulu Haji Hasan Mustapa) yang arahnya menuju Cicaheum.

Ketika kecil saya tidak tahu siapa orang yang diabadikan namanya itu. Saya baru tahu bahwa itu nama seorang ulama dan sastrawan Sunda saat kuliah di IAIN/UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tepatnya saat belajar kebudayaan Sunda. Namun sayang, waktu itu dosen yang mengajar kebudayaan Sunda itu kurang paham dengan sastra dan naskah-naskah kuno, sehingga Haji Hasan Mustapa hanya dikenal sebagai penghulu Bandung saja.

Perkenalan saya lebih lanjut dengan Haji Hasan Mustapa (HHM) ketika mengikuti diskusi di Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Kebetulan yang dibahas waktu itu temanya cukup provokatif, yang berjudul “Islam versus Sunda” yang dikupas oleh Kang Gibson alias Ahmad Gibson Al-Bustomi. Kang Gibson adalah dosen yang mengajar bidang teologi, filsafat, dan tasawuf. Dari beliaulah saya mulai mengetahui bahwa dalam kebudayaan Sunda terdapat kekayaan intelektual dan literasi-literasi berbobot. Dari beliau juga saya dibuka wawasan perihal pentingnya menilai dan mengkaji budaya lokal dengan pendekatan ‘budaya lokal’ itu sendiri.

“Jangan gunakan cultural studies! Karena itu hanya membuat kita terpisah dan menjadi berjarak dengan kajian kita sendiri. Ujung-ujungnya kan seperti tema diskusi ini’ Islam melawan Sunda’ kan tak lucu,” kata Gibson menerangkan. “Kebudayaan Sunda itu dekat dengan Islam, bahkan bisa disebut Islam,” ujarnya.

Selain mempromosikan kebudayaan Sunda dan nilai-nilai Sunda yang Islami, juga memberi bocoran tentang hebatnya sosok ulama HHM yang mengkritisi sistem budaya dan pola serta sikap keberagamaan masyarakat Sunda awal abad dua puluh Masehi. HHM bukan saja ulama, kata Gibson, tapi juga seorang sastrawan dan teolog yang menganut ajaran tasawuf. Guru saya yang menyelesaikan master di Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini mengulas tesisnya mengenai filsafat eksistensi manusia versi Hasan Mustapa secara panjang lebar.

Memang, kajian terhadap sosok HHM sangat kurang diminati anak-anak kuliahan sekarang. Baik di UIN Bandung maupun di UNPAD serta perguruan swasta lainnya, mungkin bisa dihitung jari. Karya-karya HHM pun jarang disentuh, kalau bukan untuk kepentingan akademis. Mungkin baru budayawan Ajip Rosidi, Ahmad Gibson Al-Bustomi, dan Jajang Jahroni.

Yang disebut terakhir ini melakukan kajian akademis (tesis) dengan judul “Haji Hasan Mustapa (1852-1930) as The Great Sundanese Mystic”, sebuah penelitian tentang karakteristik dan tipologi pemikiran tasawuf HHM. Memang tidak dipungkiri ada beberapa tokoh yang sempat menyinggung mengenai Haji Hasan Mustapa, seperti Jalaluddin Rakhmat, Ahmad Mansur Suryanegara, dan beberapa sastrawan lainnya. Tapi hanya sebatas ulasan saja, tidak menelaah lebih jauh. Atau mungkin sudah ada yang garap, tapi belum dipublikasikan.

Tampaknya memang harus ada yang peduli sekaligus mau mengorbankan kekayaannya untuk membuka, merawat, dan menunjukkan bahwa kita memiliki kekayaan intelektual dan warisan khazanah budaya Islam Sunda.

AHMAD SAHIDIN