Jumat, 27 Oktober 2006

Beranda » Kisah di balik Gedung Sate, Bandung

Kisah di balik Gedung Sate, Bandung

Jika kita mengunjungi Gedung Sate di jl. Dipenogoro no. 22, Bandung. Kita dapat melihat sebuah tugu yang terbuat dari batu alam di halaman depan-nya. Pada batu tersebut terdapat tulisan yang berbunyi “Dalam mempertahankan Gedung Sate terhadap serangan pasukan Gurkha tanggal 3 Desember 1945, tujuh pemuda gugur dan dikubur oleh pihak musuh di halaman ini. Bulan Agustus 1952 diketemukan jenazah Suhodo, Didi, dan Muchtarudin, yang dimakamkan kembali di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Jenazah Rana, Subengat, Surjono, dan Susilo tetap berada di sini.” Rupanya, ada jenazah yang masih terkubur di halaman gedung tersebut. Meskipun tidak banyak orang yang mengetahuinya, kisah yang terkandung pada tugu batu tersebut tidak akan pernah hilang dari sejarah.


1314465624650679352

Tugu Di depan Gedung Sate





DATANGNYA SEKUTU


Kisah itu berawal setelah pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno. Saat itu, Keadaan Republik Indonesia begitu labil. Meskipun setelahnya kabinet pemerintahan telah dibentuk, insiden-insiden kecil yang menjurus kepada pertempuran melawan tentara asing kerap kali terjadi. Terutama, setelah datangnya tentara sekutu di Republik Indonesia untuk menggantikan Jepang dan pada tanggal 4 Oktober 1945, Kota Bandung mulai dimasuki oleh tentara sekutu. Sejak saat itu, para patriot yang berada di kota Bandung harus berhadapan dengan tentara Jepang dan tentara Sekutu.






Saat itu, Gedung Sate dijadikan kantor pusat Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum. Tepatnya pada tanggal 20 Oktober 1945, Ir. Pangeran Noor (Menteri Muda Perhubungan dan Pekerjaan Umum saat itu) meminta para pegawai Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum mengangkat sumpah setia kepada Republik Indonesia sebagai bentuk perlawanan terhadap tentara asing di Bandung. Tentunya, Gedung Sate menjadi prioritas untuk di pertahankan bagi mereka yang telah mengangkat sumpah setia-nya.




Pada tanggal 24 November 1945, Kota Bandung mulai di guncang pertempuran dan Gedung Sate mulai dikepung oleh anggota tentara sekutu yakni tentara Gurkha (tentara dari Inggris) dan NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Suatu kelompok yang bernama Gerakan Pemuda Pekerjaan Umum mencoba untuk mempertahankan Gedung Sate dibantu oleh 40 orang dari pasukan Badan Perjuangan. Sayangnya, Gedung tersebut hanya dipertahankan oleh 21 orang dari anggota Gerakan Pemuda Pekerjaan Umum setelah bantuan dari pasukan Badan Perjuangan ditarik kembali pada tanggal 29 November 1945.





3 DESEMBER 1945


Tanggal 3 Desember 1945, setelah diadakan pembagian tugas oleh ke-21 anggota Gerakan Pemuda PU tersebut, pada pukul 11:00 Siang WIB, Tentara Gurkha dan tentara NICA menyerbu dan mengepung Gedung Sate dari berbagai penjuru dengan persenjataan yang berat dan modern. Meskipun begitu, ke-21 anggota Gerakan Pemuda PU ini tak mau menyerah. Mereka melakukan perlawanan secara mati-matian dengan segala kekuatan untuk mempertahankan Gedung Sate. Terjadilah pertempuran yang tidak seimbang antara Gerakan Pemuda PU melawan tentara Gurkha dan NICA.




Merasa tidak seimbang, Gerakan Pemuda PU membutuhkan bantuan pasukan. Karena hubungan telepon telah terputus, maka seorang pemuda bernama Didi Hardianto Kamarga diutus sebagai kurir untuk meminta pasukan bantuan. Sayangnya, sebelum tugas terlaksana, Didi Hardianto Kamargagugur terlebih dahulu. Hingga pada akhirnya, mereka harus menghadapi pertempuran yang tidak seimbang ini.





Dengan semangat yang berapi-api sebagai negara yang baru saja merdeka. Dengan persenjataan dan kekuatan seadanya, mereka berjuang mati-matian untuk menjaga Gedung Kantor yang menjadi salah satu lembaga kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia. Ikrar sumpah setia mereka kepada Republik Indonesia telah dipenuhi dengan mempertaruhkan nyawanya untuk menjaga dan mempertahankan Gedung Sate.




Pada pukul 14:00 WIB, Pertempuran yang tidak seimbang tersebut berakhir dan Gedung Sate akhirnya jatuh ke tangan musuh. Dalam pertempuran tersebut, baru diketahui dari 21 orang pemuda 7 diantaranya hilang. Satu orang luka berat dan beberapa orang lainnya luka ringan. Pada awalnya, tidak diketahui kemana 7 orang hilang tersebut.




Pada bulan Agustus 1952, barulah dilakukan pencarian 7 orang pemuda yang hilang tersebut oleh suatu tim yang sebagian besar adalah mereka yang sebelumnya ikut mempertahankan Gedung Sate. Hasilnya, hanya ditemukan tiga kerangka yang diketahui sebagai jenazah Didi Hardianto Kamarga,Suhodo dan Muchtarudin yang kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. Ke-empat jenazah lainnya yang tidak ditemukan adalah Rio Susilo, Subengat, Rana dan Surjono.





Sebagai tanda penghargaan bagi mereka yang jenazah-nya tidak ditemukan ini, dibuatlah dua tanda peringatan. Satu dipasang didalam Gedung Sate dan lainnya berupa tugu batu yang terbuat dari batu alam dengan tujuh nama mereka, yang telah gugur untuk mempertahankan Gedung Sate, tertulis disana.




JIWA KORSA PEKERJAAN UMUM


Tanggal 3 Desember 1951, Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga saat itu, Ir. Ukar Bratakusumah, menyatakan bahwa ketujuh pemuda pahlawan tersebut dihormati sebagai “PEMUDA YANG BERJASA”. Tanda penghargaan tersebut disampaikan kepada para keluarga mereka yang ditinggalkan.


Sepuluh tahun kemudian, tertanggal 2 Desember 1961, Menteri Pertama Ir. H. Djuanda memberikan “Pernyataan Penghargaan” tertulis kepada para pemuda yang gugur. Ditetapkanlah pada setiap tanggal 3 Desember sebagai Hari Bhakti Pekerjaan Umum. Di kalangan Departemen Pekerjaan Umum, peristiwa tanggal 3 Desember 1945 tersebut dikenal sebagai “Jiwa Korsa Departemen Pekerjaan Umum”.

Aldi M. Perdana